Rabu, 23 Oktober 2013

performa klpok 8

Naskah drama musical. Kelompok 8.
Anggota:
1.      M. Ikhwan Nasution (12-021)
2.      Melfa Y Simanjuntak (12-046)
3.      Melva  F Napitupulu (12-064)
4.      Dian Arizka P.P (12-098)
5.      Novalia Tarigan (12-110)
Dream, believe, and make it happened
Pemeran :
  1. Pemuda
  2. Gadis
  3. Ayah
  4. Ibu
  5. Adik perempuan ibu (tante)
Pengantar:
Di latar ada sebuah bangku memanjang dan terdapat satu orang yang duduk terpaku dengan secarik kertas dan pulpen yang dipegangnya. Ia terlihat sangat ambisius dengan kertas yang dipegangnya. Sedangkan banyak orang yang berlalu lalang di hadapannya. Ada sang penjual, pengemis, anak kecil menangis, anak-anak bermain. Ada seorang anak muda yang duduk ambisius dengan secarik kertas. Anak muda itu sedang merancang masa depan, dengan membuat cita-cita yang ia tuliskan di selembar kertas itu.
Seorang gadis berpenampilan anggun melewati depan pemuda itu, semua mata tertuju padanya (ada istri yang memarahi suaminya yang menatap gadis lewat tersebut) kecuali dengan pemuda yang dari tadi ambisius dengan kertasnya. Gadis itu heran dengan pemuda, kenapa semua pria melihat dirinya tetapi hanya pemuda itu yang tak tertarik. Sang gadis mendekati pemuda tersebut, dengan mengibaskan rok panjangnya ketika berjalan, dll bertujuan untuk mencari perhatian. Belum berhasil, akhirnya gadis itu berhenti dan berada di sampingnya dengan mengeluarkan suara batuk pelan, tidak berhasil suara batuk medium, tidak berhasil, dan akhirnya suara batuk keras, berhasil. Pemuda itu melihat gadis yang berada di samping dengan heran, gadis itu salah tingkah dan tebar pesona.
W  : “Apa yang sedang kamu perbuat wahai pemuda yang belum ku ketahui namanya.” (tersipu malu)
P   : “Bukankah kamu putri seorang pemimpin di desa ini?”
W  : “Iya, kamu kok tau?”
 : “Siapa yang tidak mengenal dirimu? Kau seorang gadis baik dan pintar dari anak seorang pemimpin di desa ini, Banyak orang yang menyukaimu, teman-temanku juga. Kau bahkan berpendidikan tinggi dibanding kami. Pantaslah jika semua orang mengagumimu?”
Gadis itu tak bisa berkata apa-apa ia terharu bahagia dan sangat senang dipuji oleh pemuda itu.
W  : “Jadi, apakah kamu juga mengagumiku?”
P   : “Jelas.” (Gadis itu tersipu malu). “Jelas tidak. Aku sudah memiliki seorang kekasih idaman hati.”
Dari muka yang tersipu malu, gadis itu kaget setengah mati. Seakan-akan cintanya ditolak mentah-mentah.
P   : (pemuda heran dengan perilaku gadis tersebut) “Kamu kenapa?”
W : “Oh. Gak pa-pa. Oh ya, saya perhatikan daritadi kamu duduk disini terus? Apa yang kamu perbuat?
P   : “Oh ini.” (ia menunjukan lembaran kertas) “Aku sedang merancang masa depan, aku ukir di lembaran ini dan akan kupajang di tempat yang selalu aku melihatnya. Aku yakin, akan menimbulkan suatu semangat di setiap usahaku untuk meraih itu semua.
Gadis itu melihat lembaran kertas dengan mengambilnya tiba-tiba dari tangan pemuda itu, pemuda itu sedikit tidak ikhlas saat diambil kertasnya.
W  : “Target semester ini, mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Target untuk menyelesaikan semester akhir di SMA yang sempat berhenti dan lulus SMA. Target selanjutnya masuk Universitas Negeri. (kertas diambil dari tangan gadis oleh pemuda) Kamu bermimpi?”
P    : “Iya, ada yang salah?”
W   : “Saranku, berpikirlah realitas dan lakukanlah yang terbaik hari ini. Cukup.”
P   : (diiringi piano, lagi Nidji-Laskar Pelangi) “Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia. Berlarilah, tanpa lelah sampai engkau meraihnya.”
(Lagu Laskar pelangi diiringi musik dan penari yang membuat suasana panggung hidup. Saat lagu berlanjut dilanjutkan dengan membuat setting berikutnya. Setting sebuah ruangan pemimpin desa atau ayahnya W. Terdapat pot bunga, meja kantor, kursi pejabat, ruang tamu dengan meja bagus serta kursi sofa.)
Musik berganti dengan intro lagu Bento-Iwan Fals. Di latar ada sang Ayah dengan baju rapi dan ibunya yang terlihat cantik dan adik perempuan ibunya yang sedang bersantai bercengkerama di ruang tamu.
 Ayah  : “Namaku Bento (ganti nama asli) rumah real estate. Mobilku banyak, harta melimpah. Orang memanggilku, bos eksekutif. Tokoh papan atas, atas segalanya. Asik!
Si anak perempuan tadi masuk ruangan tamu dengan merenung. Ayahnya bingung dan menghampiri gadis itu yang terduduk lesu di ruang tamu.
Ibu      : “iya sayang, kamu kenapa? Kog muka anak mama cemberut sih?”
Ayah    : “Kamu kenapa anakku? Kalau murung keliatan kayak ayam peokon, loh.”
Tante  : “Sstt! Coba kamu ceritakan sama Tante. Apa karena uang jajan kamu kurang di kasih mama papa mu ni?”
Ibu : “ yang benar aja, kan kemarin mama uda transfer uangnya 10 juta” (nyeletuk)
Ayah : “aduhh, apaan sih kalian berdua. Anak lagi sedih kog malah bahas uang jajan sih..”
Ayah melirik tajam ke Ibu dan tante tanpa bersuara, si Ibu dan tante mangut dan mengerjakan pekerjaan rumah kembali.
Gadis : “Ayah, aku sedang jatuh cinta Ayah. Tetapi sayangnya pria itu cuek padaku. Ayah pernah merasakan jatuh cinta?” (tanya dengan lugu)
Ibu : “ya iyalah pernah. Setiap waktu, pasti jatuh cinta ama mamamu ini. Ups.” (Langsung diam, dan dengan tampang tak berdosa kembali ke aktifitasnya)
Ayah   : ”mendingan kamu ambilin minum deh buat aku. Ngomong asal aja”
Ayahnya langsung melihat tajam ke arah ibunya itu, setelahnya mau bicara dengan si anak gadisnya itu tetapi disela oleh gadis itu.
Gadis : “Oh iya-ya.”
Tante  : “Kamu sedang jatuh cinta dengan putra dari keluarga terpandang yang mana, anakku? Tante pasti mendukungmu”.
Gadis : “Bukan, bukan tante.  Aku sedang jatuh cinta dengan pemuda desa. Ia pemuda yang baik hati, teguh, kuat, dan mempunyai mimpi yang hebat.”
Ayah diam tanpa ekspresi, kemudian Ibu datang membawakan cangkir berisi air untuk Ayah dan gadis tersebut. Kemudian pergi. Si Ayah yang tanpa ekspresi, minum air tersebut.
Ayah  : “APAAA?!!!!!!” (memuncratkan air di dalam mulutnya, seketika gadis kabur dari kursinya dan si ibu kaget langsung menghentikan aktifitasnya)
Gadis : (sambil berdiri, shock lihat ayahnya kaget) “Kenapa papa?”
Ayah   : “Kamu bisa jatuh cinta dengan pemuda desa yang tidak berpendidikan? Apa kata dunia?”
Gadis : “Iya Ayah, aku sudah mantap, jika harus menikahinya walau umur kita masih remaja.”
Ibu yang berada dekat dengan gadis maju mendekatinya.
Tante : “sayang kamu ngomong apa sih. Coba kamu pikir baik-baik deh” (mencoba menenangkan keponakannya)
Ibu  : “Anakku, kita dari keluarga yang terpandang. Bisakah kamu mencari jodoh dari keluarga yang terpandang juga? Yang selevel gitu?”
Gadis : “aku diam-diam suka dia. Ku coba mendekat, ku coba mendekati hatinya” (pakai nada yang merdu)
Ayah yang sedari tadi diam, akhirnya angkat berbicara.
Ayah    : “Baiklah, jika itu maumu. Coba kamu bawakan pemuda itu ke hadapan papa.”
(suara petir dan musik tegangpun berbunyi. Gadis tersebut pergi mencari pemuda, panggung remang  terlihat hanya aktifitas si ayah yang tidak tenang menunggu kehadiran putrinya dan pemuda yang akan dibawanya. Di dalam panggung hanya ada Ayah yang galau dikursinya, dan ibu yang sedang membaca majalah.)
Si gadis datang membawa pemuda, lampu kembali terang. Si Ayah beranjak berdiri dari kursi lalu menghampiri gadis dan pemuda.
Gadis : “Ma, Pa, inilah pemuda yang kumaksud.”
Ibu   : “Sepatu robek, celana kumuh, baju serampangan, rambut sedikit botak, ini levelmu wahai anakku? Oh Em Ji.
Gadis : “mama, jangan melihat dari penampilan luarnya. Lihatlah dari dalamnya!” (merengek)
Tante   : “IH WAW!!! Kog ada gembel di rumah kita?” (memasuki teras)
Gadis  : “tante, tolong dong jangan bicara gitu” (hamper putus asa)
Ayah     : “Apa kamu bilang? Kamu suruh papa menilai dalamnya?” (kaget dan mengernyitkan muka)
Gadis : “Iya Papa. Tolong beri ia harapan.”
Si Pemuda masih terdiam bingung melihat apa yang ada di hadapannya.
Ayah     : “Baiklah, kalian duduk dulu.”
Si gadis mengajak pemuda duduk di ruang tamu. Sedangkan Ayah bingung mondar-mandir di depan kursi.
Ayah     : “Kalian bawakan minum buat tamu ini.” (menyuruh sang ibu dan tante)
Ayah beranjak duduk di bangku ruang tamu.
Ayah     : “Jadi wahai pemuda, apa motivasimu menyukai anakku?” (tanya serius oleh Ayah)
P     : “Heh? (salah tingkah, menjaga sikap) Maaf, Pak. Sepertinya Bapak salah paham, coba tolong kamu jelaskan kepada bapakmu.” (meminta si gadis)
W    : “Iya Papa, kami saling menyukai tolong restui kami.” (pegang tangan si pemuda)
P     : “Wus ngawur kamu. Bukannya kamu ngajak saya, karena kamu menawarkan pendidikan kuliah saya? Kok jadi gini?”
W   : “Jika kamu menerima aku, kamu akan sekolah gratis hingga kamu jadi orang. Papa sanggup biayai kamu.”
Ayah kaget, mau bicara tapi disela sama pembicaraan selanjutnya.
P    : (berdiri) “Hei, ingat yah. Saya tidak akan menggapai mimpi dengan menghalalkan berbagai cara. Ngapain saya harus berbuat yang tak wajar untuk menggapai tujuan saya.”
W   : (berdiri) ”Yang kamu butuhkan sekarang hanya uang untuk biaya kuliah kan? Aku bakal bantuin kamu”
P    : “Ungkapanmu itu sama saja, menghalalkan mencuri untuk kekayaanmu. Atau sama saja, membodohi semua orang untuk mendapatkan keuntungan! Huh.
Ayah  : (tersentuh dengan pernyataan pria tersebut dan akhirnya dia sadar kalau pria tersebut memang baik) “Cukup, kenapa kalian jadi bertengkar!”
W & P   : “Berisik!”
Ayah kaget dengan berekspresi ketakutan tetapi terlihat lucu. Ibu dan tante masuk ke dalam panggung memecah kesunyian dengan membawakan rantang berisi teko air, dan gelas. Mereka bingung dengan kejadian tersebut.
Ayah  : “Ok, tolong kalian tenang” (menjaga wibawanya)
Akhirnya semuanya duduk dan berbicara dengan tenang.
Ayah  :”jadi kamu butuh biaya untuk kuliah? Kalau Cuma masalah itu, baik saya akan memberikan kamu pekerjaan”
Semua yang ada disana kebingungan.
Ibu dan tante  : “apa-apaan sih kog jadi berubah gitu?” (bersamaan)
W  :” makasi pa”
Ayah : “dan kamu (menunjuk anaknya) kamu jangan lagi mengejar-ngejar dia. Biarkan dia kuliah dulu dan terserah dia akhirnya mau apa tidak dengan kamu”
W  : “papa kog gitu sih”
Ayah  : “daripada dia gak jadi papa kasih pekerjaan”
P     : “terima kasih pak, saya akan berusaha belajar keras”
Satu persatu lampu gelap, diiringi musik syahdu setelah dialog akhir pemuda. Panggung di setting polos dengan ditutupi selimut hitam. Lilin yang mengitari panggung dinyalakan dan hanya lampu kuning yang menyala.
Slide Show di proyektor.
Setelah bertemunya dengan ayah gadis itu, sang pemuda perlahan-lahan meraih impiannnya yang ia ukir di selembar kertas.
Yaitu…
Bekerja untuk biaya kuliahnya
Ia akhirnya bekerja sebagai penjaga toko baju di pasar, serta diluar itu ia menawarkan jasa angkutan barang di pasar. Penghasilannyapun terbilang cukup, ia tabung untuk biaya kuliah selama satu semester kedepan. Dan akhirnya semester selanjutnya ia berhasil masuk kuliah dan mendapat beasiswa hingga menyelesaikan pendidikannya dan menjadi sarjana. Dapat diambil satu hikmah, mimpi itu butuh perjuangan.
Bahkan dia lulusan yang terbilang memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Itu menjadi semangat juang bagi sang pemuda untuk melanjutkan pendidikannya, dengan biaya gratis.hingga setelah lulus dia langsung direkrut oleh perusahaan ternama dan mendapat gaji tinggi.
Lihatlah takdir yang berjalan, semua akan indah pada waktunya. Jika kalian punya tujuan yang baik dan usaha untuk mencapainya.
(Setting baru dengan panggung kosong dan slide pemandangan pedesaan. Di tengah panggung sudah berdiri sang pemuda dengan pakaian rapi.. Suasana desa kembali tergambarkan)
P             : “Aku pernah bermimpi, menjadi bintang yang paling bersinar, ku tak menyangka ini tejadi
                  Kegagalan yang pernah ku alami, menjadikanku semakin kuat, aku bersyukur jadi seperti ini
                  Kebahagiaan ini janganlah cepat berlalu, karna tak mudah untuk menggapainya, ku berjanji akan menjaga semua
                  Terimakasih Tuhan, atas sgala anugrah yang Kau beri kepadaku. Semoga ‘kan tetap abadi”
Monolog oleh sang pemuda, diiringi musik Tanah air dengan tempo yang diperlambat.
P             : “Hidup tanpa impian serta tujuan, bagai mayat yang berjalan tanpa ada maksud. Dengan mimpi, dapat mengubah kemiskinan menjadi kekayaan. Berawal dari mimpi, mengubahku dari pemuda desa, menjadi seorang gagah dan berhasil. Dari sebuah mimpi, dapat mengubah kesulitan menjadi kemudahan.
Dan si gadis yang tadinya mengejar-ngejar pemuda tersebut pun putus asa dan akhirnya dia pun memutuskan untuk mengikuti jejak pemuda tersebut yaitu menyelesaikan kuliahnya dan menjadi wanita karier. Semuanya akhirnya hidup bahagia.
Mahatma Gandhi said
Your Beliefs Become Your Thoughts
                   Your Thoughts Become Your Words
                   Your Words Become Your Actions
                   Your Actions Become Your Values
                   Your Values Become Your Destiny  (tampilkan di slide)
                   Keyakinanmu akan menjadi pikiranmu..
                   Pikiranmu akan menjadi  perkataanmu…
                   Perkataanmu akan menjadi tindakanmu…
                   Tindakanmu akan menjadi nilai dirimu…
                   Nilaimu akan menjadi takdirmu…
Ya, dari sebuah kepercayaan akan menggapai kita ke dalam sebuah tujuan melalui rangkaian perjalanan hidup.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar