Minggu, 09 Juni 2013

hasil observasi



Laporan Hasil Observasi

A.          PENJELASAN DESKRIPSI SEKOLAH
Nama Sekolah                                      :SMA Negeri 1 Galang
Alamat                                                  :Jl. Besar Kompleks Galinda, Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Galang (no.telp 7981645)
Uang Sekolah                                       :Rp. 50.000,-
Konsep e-learning yang digunakan      :Individual Online dan Offline
Lama waktu penggunaan e-learning:   2011 - sekarang
Narasumber:                                         Haris Nasution, S.Pd

B.          URAIAN OBJEKTIF OBSERVASI
Pelaksanaan                                            Rabu, 15 Mei 2013
Kelas yang di Observasi                        Kelas X-4
Lama Observasi                                     2 jam pelajaran x 45 menit = 90 menit

Pembagian tugas dalam Observasi
M. Ikhsan Pratama (121301018)          : Manejemen Kelas
M. Ikhwan Nasution (121301021)       : Dinamika pembelajaran dan HUMAS
Melfa Y. Simanjuntak (121301046)     : Motivasi
Melva Febrina N. (121301064)            : Uraian Objektif dan dokumentasi
Dian Arizka Pratiwi P. (121301098)    : Teori Belajar
Novalia Tarigan (121301110)               : Orientasi belajar

C.     LAPORAN HASIL OBSERVASI
   Dari observasi yang kami lakukan, kami mengobservasi beberapa aspek yang terjadi di dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya di kelas X4. Antara lain aspek sistem pembelajaran khususnya sistem pembelajaran E-Learning, motivasi siswa, manajemen kelas, dan beberapa aspek lainnya.

1.                  Konsep E-Learning
Dari segi penggunaan sistem belajar, sekolah tersebut sudah menggunakan sistem E-Learning. Hal ini sangat terlihat dari penggunaan proyektor pada saat proses pembelajaran, dan juga siswa-siswi di sekolah tersebut tergabung dalam sebuah media jejaring sosial yang juga di gunakan dalam membantu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, siswa juga di berikan beberapa referensi dari internet, seperti yang kami lihat langsung pada saat observasi ke sekolah tersebut. Pada saat itu siswa sedang dalam proses mata pelajaran Bahasa Inggris yang bahan pelajarannya lewat E-book (electronic book) yang berjudul Developing English Competencies. Konsep E-Learning yang terlihat di kelas tersebut saat di observasi adalah meliputi offline dan sinkron.
2.                  Orientassi Belajar
Orientasi pembelajaran yang di gunakan adalah teacher centre learning, dimana guru bertindak sebagai pengajar, pembawa materi pelajaran (metode ceramah), pengontrol utama suasana kelas, pemberi instruksi, pemberi tugas kepada siswa, dan lainnya. Sehingga siswa cenderung pasif dan mengikuti arahan dan petunjuk dari pengajar. Namun siswa di berikan kebebasan untuk memberi pertanyaan apabila kurang mengerti, dan juga terkadang siswa di berikan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan pelajaran tersebut oleh pengajar di sela-sela proses pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa dan mengukur seberapa persen siswa mengerti mengenai materi yang di ajarkan.
3.                  Manajemen Kelas.
Manajemen di dalam kelas tersebut cukup baik, dari segi peralatan pembelajaran ruangan tersebut cukup lengkap. Dari hasil proses observasi kami, suasana kelas tersebut tidak terlalu padat oleh siswa, lantai dan dinding kelas bersih, namun bangku dan meja yang terletak di pojok ruangan kelas kurang tertata rapi dan juga kelas cukup gerah dan panas. Apalagi hal ini di karenakan tidak adanya fasilitas kipas angin atau pendingin ruangan di ruangan belajar tersebut. Hal ini cukup dapat mengganggu proses pembelajaran dan siswa terlihat kegerahan sehingga menyebabkan berkurangnya konsentrasi belajar siswa terutama jika pada siang hari. Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Everstson, Emmer, & Worsham, 2003). Suasana kelas dan fasilitas yang lengkap serta manajemen kelas yang baik akan menunjang proses belajar mengajar.
Di dalam kelas terdiri dari 29 orang siswa yang terdiri dari 15 orang siswi dan 14 orang siswa. Gaya penataan meja siswa bergaya auditorium, dimana semua siswa duduk menghadap guru. Meja siswa berpasangan yang terdiri dari 4 baris ke samping dan masing-masing 4 baris ke belakang. Gaya penataan meja siswa sudah baik; dari setiap sisi tempat duduk siswa, siswa dapat melihat kearah pengajar dan papan tulis yang berada di bagian tengah depan kelas dengan jelas. Pencahayaan di dalam kelas juga baik, terutama di karenakan ruangan di lengkapi oleh jendela-jendela yang cukup baik.
4.                  Motivasi.
Dari segi motivasi belajar siswa, siswa terlihat cukup antusias dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat siswa di beri pertanyaan siswa dapat menjawab dengan baik dan juga siswa mau sesekali bertanya kepada pengajar. Pada saat di beri tugas pun tugas siswa dengan segera mengerjakan tugas yang di berikan oleh pengajar tersebut. Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan prilaku. Yang artinya, prilaku yang termotivasi adalah penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Siswa termotivasi apalagi dikarenakan pengajar dapat menambahkan motivasi siswa. Setiap awal proses pembelajaran, pengajar terlebih dahulu memberikan kata-kata motivasi dan hal ini cukup dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
Proses pembelajaran siswa di dalam kelas tersebut berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Suasana kelas tersebut terasa hangat dan penuh dengan canda tawa di sela-sela pembelajaran. Pengajar juga menggunakan beberapa perspektif tentang motivasi antara lain perspektif behavioral dan perspektif kognitif. Dari segi behavioral siswa di berikan insetif ataupun reinforcement, contohnya pada saat pemberian tugas jika siswa mengumpulkan tugas tepat waktu dapat poin jika tidak mengumpulkan maka akan di hokum seperti menyapu halaman sekolah dll. Sedangkan dari segi perspektif kognitif, siswa siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi, contohnya pada saat ujian siswa di berikan kesempatan dan tanggung jawab  untuk menentukan mau seberapa baik hasil ujiannya dengan belajar giat.
5.                  Toeri belajar.

Teori belajar yang di gunakan di kelas yang di observasi ini menggunakan teori  belajar behavioral yang dimana siswa belajar dengan menggunakan insentif dan reinforcement, dimana kalau mereka tidak mengerjakan tugas mereka akan mendapatkan hukuman tetapi apabila mereka mengerjakan tugas mereka akan mendapat reward, seperti nilai mereka bagus. Hal ini terlihat pada saat kami melakukan observasi pada proses belajar bahasa inggris, dimana guru menjelaskan materi kepada siswa. Siswa cukup aktif dalam mendengarkan penjelasan dari pengajarkemudian mereka juga mendiskusi hasil penjelasan dari pengajar tersebut. Setelah pengajar selesai menjelaskan, pengajar memberikan tugas kepada siswa.


D.     RANGKUMAN HASIL OBSERVASI
                               1.   Menurut Kelompok
Menurut kelompok, dari observasi yang dilakukan dapat dilihat proses pembelajaran sekolah tersebut sudah cukup baik untuk konsep e-learningnya. Namun, belum sepenuhnya mencakup konsep e-learning yang sebenarnya. Contoh kekurangannya seperti, pengajar yang kurang terampil dalam menggunakan media teknologi.
Dari segi manajemen kelas, kelas tersebut sudah cukup baik dan peralatan pembelajaran yang mendukung e-learning sudah cukup lengkap.  Gaya penataan ruangan sudah baik sehingga membuat siswa dapat melihat pengajar dan whiteboard dengan baik dan jelas.
Untuk motivasinya, ada dua perspektif tentang motivasi yang digunakan di SMA Negeri Galang, yaitu perspektif behavioral dan kognitif.  Orientasi belajar yang digunakan adalah metode TCL ( teacher center Learning ) dimana proses pembelajaran berfokus dan bersumber dari guru. Siswa sendiri cenderung pasif dan mengikuti intruksi dari penngajar.

anak khusus tunalaras



Sekolah Luar Biasa Bagian E ( Khusus Tunalaras).

A.    Pengertian Anak Tunalaras.
ð  Anak tuna laras atau sering disebut anak nakal merupakan anak yang mengalami hambatan atau kesulitan untuk menyesuaikan diri di lingkungan sosialnya. Dia melakukan sesuatu itu diluar norma – norma yang berlaku.

B.     Pelayanan Pendidikan.
ð  Bentuk pelayanan pendidikan dapat diselenggarakan di SLB khusus bagi anak tunalaras (SLB-E). Berdasarkan data statistik tahun 2003 yang dikeluarkan Direktorat Pendidikan Luar Biasa menyebutkan bahwa jumlah anak tunalaras sebanyak 351 orang, dengan jumlah 12 (dua belas) Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras (lihat lampiran).
ð  Ada pula Departemen terkait yang memberikan pelayanan pendidikan bagian anak nakal yaitu Departemen Kehakiman dan Departemen Sosial. Pada umumnya Departemen Kehakiman menampung “anak negara” yaitu anak delinkwensi atas putusan pengadilan dicabut hak mendidik dari orang tuanya kemudian diambil oleh pemerintah. Mereka dipelihara sampai berumur 18 tahun sebagai batas ukuran dewasa.
ð  Sedangkan Departemen Sosial memelihara mereka berdasar titipan dari orangtua, karena orangtua sudah merasa kewalahan. Atau hasil razia anak gelandangan atau terlantar yang sulit bila dikembalikan kepada orangtuanya karena keadaan tidak mampu atau sangat miskin.
ð  Di dalam pelaksanaan penyelenggaraannya kita mengenal macam-macam bentuk penyelenggaraan pendidikan anak tunalaras/sosial sebagai berikut:
v  Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan di sekolah reguler. Jika diantara murid di sekolah tersebut ada anak yang menunjukan gejala kenakalan ringan segera para pembimbing memperbaiki mereka. Mereka masih tinggal bersama-sama temannya di kelas, hanya saja mereka mendapat perhatian dan layanan yang lebih khusus.
v  Kelas khusus apabila anak tunalaras perlu belajar terpisah dari teman pada satu kelas. Kemudian gejala-gejala kelainan baik emosinya maupun kelainan tingkah lakunya dipelajari. Diagnosa itu diperlukan sebagai dasar penyembuhan. Kelas khusus itu ada pada tiap sekolah dan masih merupakan bagian dari sekolah yang bersangkutan. Kelas khusus itu dipegang oleh seorang pendidik yang berlatar belakang PLB dan atau Bimbingan dan Penyuluhan atau oleh seorang guru yang cakap membimbing anak.
v  Sekolah Luar Biasa bagian Tunalaras tanpa asrama. Bagi Anak Tunalaras yang perlu dipisah belajarnya dengan kata anak yang lain karena kenakalannya cukup berat atau merugikan teman sebayanya.
v  Sekolah dengan asrama. Bagi mereka yang kenakalannya berat, sehingga harus terpisah dengan teman maupun dengan orangtuanya, maka mereka dikirim ke asrama. Hal ini juga dimaksudkan agar anak secara kontinyu dapat terus dibimbing dan dibina. Adanya asrama adalah untuk keperluan penyuluhan.

C.     Bentuk Satuan dan Lama Pendidikan
a.      Bentuk satuan Pendidikan Luar Biasa Tunalaras terdiri dari:
v  Sekolah Dasar Luar Biasa selanjunya disebut SDLB, merupakan bentuk satuan pendidikan yang menyiapkan siswanya untuk dapat mengikuti pendidikan pada jenjang SLTPLB (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) baik melalui pendidikan terpadu atau kelas khusus.
v  Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) merupakan bentuk satuan pendidikan yang menyiapkan siswanya dalam kehidupan bemasyarakat dan memberi kemungkinan untuk mengikuti pendidikan pada SMLB atau Sekolah Menengah (SMU/SMK) reguler melalui Pendidikan Terpadu dan atau kelas khusus.
v  Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) merupakan bentuk satuan pendidikan yang menyiapkan siswanya agar memiliki keterampilan yang dapat menjadi sumber mata pencaharian sehingga dapat hidup mandiri di masyarakat atau mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi.




b.      Lama Pendidikan
Lama pendidikan setiap satuan Pendidikan Luar Biasa tunalaras adalah sebagai berikut :
v  SDLB, berlangsung selama sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun.
v  SLTPLB, berlangsung sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.
v  SMLB, berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.

D.    Peserta Didik
ð  Calon peserta didik yang dapat diterima pada satuan Pendidikan Luar Biasa tunalaras adalah sebagai berikut :
v  Sekurang-kurangnya berusia 6 (enam) tahun untuk SDLB.
v  Telah tamat dan lulus dari SDLB atau satuan pendidikan yang sederajat atau setara, untuk SLTPLB dan atau SLTP reguler.
v  Telah tamat dan lulus dari SLTPLB atau satuan pendidikan yang sederajat atau setara, untuk SMLB dan atau SMU/SMK reguler.

E.     Tenaga Kependidikan.
ð  Tenaga kependidikan pada satuan Pendidikan Luar Biasa tunalaras terdiri atas kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru yang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa khususnya tunalaras serta anggota masyarakat yang tidak di didik khusus sebagai guru Pendidikan Luar Biasa tetapi mempunyai keahlian dan kemampuan tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dalam kegiatan belajar.


F.      Program Pengajaran.
a.      Kurikulum SDLB meliputi:
v  Program Umum. Isi program umum Kurikulum SDLB disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Dasar dengan memperhatikan keterbatasan kemampuan belajar para siswa yang bersangkutan.
v  Program Khusus. Isi program khusus kurikulum SDLB disesuaikan dengan jenis kelainan siswa.
v  Program Muatan Lokal. Program muatan lokal kurilukum SDLB disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan, yang ditetapkan oleh Kantor Dinas Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional setempat.



b.      Kurikulum SLTPLB meliputi:
v  Program Umum. Isi program umum Kurikulum SLTPLB disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dengan memperhatikan keterbatasan kemampuan belajar para siswa yang bersangkutan.
v  Program Khusus. Isi program khusus kurikulum SLTPLB disesuaikan dengan jenis kelainan siswa.
v  Program Muatan Lokal. Program muatan lokal kurilukum SLTPLB disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan, yang ditetapkan oleh Kantor Dinas Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional setempat.
v  Program Pilihan. Isi program pilihan kurikulum SLTPLB berupa paket-paket keterampilan yang dapat dipilih siswa dan diarahkan pada penguasaan satu jenis keterampilan atau lebih yang dapat menjadi bekal hidup di masyarakat.

c.       Kurikulum SMLB meliputi :
v  Program Umum. Isi program umum Kurikulum SMLB disesuaikan dengan kurikulum Sekolah Menengah dengan memperhatikan keterbatasan kemampuan belajar para siswa yang bersangkutan.2) Program Pilihan. Isi program pilihan kurikulum SMLB berupa paket-paket keterampilan yang dapat dipilih siswa dan diarahkan pada penguasaan satu jenis keterampilan atau lebih yang dapat menjadi bekal hidup di masyarakat.

d.      Bimbingan dan Rehabilitas
v  Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam upaya menemukan pribadi, menguasai masalah yang disebabkan oleh kelainan yang disandang, mengenali lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.
v  Rehabilitasi merupakan upaya bentuan medik, sosial, dan keterampilan yang diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti pendidikan. Bimbingan dan rehabilitasi melibatkan para ahli terapi fisik, ahli terapi bicara, dokter umum, dokter spesialis, ahli psikologi, ahli pendidikan luar biasa, perawat dan pekerja sosial.

e.      Pola Penyelenggaraan.
ð  Untuk menjamin kesesuaian program pendidikan luar biasa tunalaras dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan, kemampuan peserta didik tunalaras serta efektivitas dan efesiensi, penyelenggaraan pendidikan luar biasa tunalaras dapat memilih pola-pola berikut :
v  Pendidikan Luar Biasa tunalaras merupakan gabungan semua satuan pendidikan. Menurut pola ini, hanya terdapat satu bentuk yang menyelenggarakan semua satuan pendidikan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
v  Pendidikan Luar Biasa tunalaras dibagi menurut satuan pendidikan. menurut pola ini terdapat 3 (tiga) bentuk yaitu SDLB, SLTPLB dan SMLB yang masing-masing disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
v  Penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik tunalaras yang memiliki kecerdasan normal dapat dilaksanakan bersama dengan anak normal melalui pendidikan terpadu dan atau kelas khusus.

G.    Program Pembinaan Sekolah
a.       Program Bidang Pengajaran.
ð  Isi program bidang pengajaran pada prinsipnya sama dengan sekolah reguler. Mengingat kondisi anak tunalaras pada umumnya malas untuk belajar, maka sifat pengajaran kepada mereka juga bersifat penyuluhan atau yang disebut remedial teaching. Remedial teaching maksudnya membantu murid dalam kesulitan belajar. Sistem pengajaran bersifat klasikal. Ada kemungkinan dalam satu kelas terdiri dari beberapa anak yang mengikuti program pengajaran secara berbeda-beda. Jumlah murid tiap-tiap kelas sekurang-kurangnya tiga orang dan sebanyak-banyaknya 12 orang.

ð  Banyak sedikitnya jumlah murid tiap kelas ditentukan oleh:
v  Faktor kecakapan guru melayani individu.
v  Makin muda usia makin kecil jumlahnya.
v  Ambang perbedaan umur tidak besar.
v  Fasilitas ruangan.

ð  Para guru di sekolah bagi anak tunalaras perlu memahami teknik diagnosik kesulitan belajar, kemudian cara membimbing disesuaikan dengan bakat dan kemampuan tiap-tiap murid.

b.      Program Bimbingan Penyuluhan.
ð  Program-program ditawarkan dalam bimbingan dan penyuluhan antara lain :
v  Program bimbingan penyuluhan suasana hidup keagamaan di asrama.
v  Program keterampilan.
v  Program belajar di sekolah reguler (terpadu dan atau kelas khusus).
v  Program bimbingan kesenian.
v  Program kembali ke orangtua.
v  Program kembali ke masyarakat.
v  Program bimbingan kepramukaan.